Anda yakin ingin menghapus :


Tidak  Ya
Artikel Arena Karier

3 Strategi Negosiasi yang Efektif

31 Mar 2013
Kategori : Sejarah
Oleh : Devona

Taktik negosiasi yang utama adalah mengamankan posisi tawar yang lebih unggul. Dengan kuatnya bargaining power, negosiator akan memiliki jangkauan yang lebih luas dan ruang yang lebih lebar agar lebih leluasa atau fleksibel dalam bernegosiasi.

Berikut adalah strategi untuk dapat menjalankan taktik negosiasi yang utamanya bisa membuat kita memiliki posisi tawar yang lebih tinggi:

1) Memiliki Keunggulan Daya Saing
Dengan bargaining power yang tinggi, negosiator bisa mempengaruhi proses negosiasi ke arah yang diinginkan. Misalnya; jika kita dalam posisi penjual, kita harus memiliki minimal dua pembeli atau lebih. Dalam prinsip persuasi ini disebut prinsip validasi sosial dan prinsip kelangkaan yang membuat produk yang kita jual menjadi berharga tinggi karena tampak laku serta terasa terbatas kesempatannya untuk dimiliki.

 

Daya saing yang unggul juga bisa didapatkan dari nilai tambah yang tidak dimiliki pesaing, kelebihan posisi atau sumber daya, keterbatasan jangkauan serta batas waktu yang ditetapkan sebelum menerapkan ancaman kehilangan kesempatan untuk lawan. Menciptakan suatu urgensi juga dapat dibuat sebagai aplikasi prinsip kelangkaan.

Selanjutnya, negosiator mesti menggunakan prinsip rasa suka untuk menjalin keakraban dan membangun kepercayaan untuk memperlancar proses negosiasi. Kesepakatan bisa diraih lebih cepat dengan menerapkan prinsip persuasi seperti mencari kesamaan dan menonjolkan kedekatan.

2) Keyakinan Diri yang Kuat
Prinsip persuasi yang digunakan adalah otoritas dimana sang negosiator harus memiliki kepercayaan yang tinggi karena bersikap selayaknya seorang ahli tanpa menunjukkan rasa takut atau mengekspos kelemahan.

Kepakaran yang dipersepsikan dalam proses negosiasi bisa berupa kepemilikan wawasan dan pengetahuan yang lebih banyak daripada lawan. Negosiator perlu mengembangkan juga kemampuannya dalam bidang psikologi, meningkatkan keahlian sosial dan inter-personal, serta mempelajari prinsip-prinsip persuasi.

Bisa juga dengan memiliki dukungan dari orang atau pihak yang dianggap sebagai otoritas yang berpengaruh bagi lawan negosiasi. Penggunaan simbol-simbol, aksesoris, busana, bahasa lisan dan bahasa tubuh bisa dimanfaatkan untuk menambah kekuatan karisma dari sang negosiator.

3) Kreativitas yang Fleksibel
Negosiator yang baik harus siap mengaplikasikan exit strategy jika negosiasi menemukan jalan buntu. Namun, negosiator yang ulung bisa berinovasi dengan menyiapkan atau memiliki banyak solusi yang potensial tanpa perlu mengorbankan banyak poin penawaran dengan berpikir kreatif.

Kembali lagi, persiapan adalah kunci penting dalam bernegosiasi. Pengumpulan data intel dan informasi dini memang mutlak diperlukan. Segala kemungkinan harus bisa diprediksi dan dipersiapkan agar arah negosiasi tetap sejalan serta terus bisa diselaraskan dengan tujuan awal.

Perencanaan kerangka pembicaraan sebagai haluan beserta jalan-jalan pembicaraan alternatif memang mesti dituliskan sebelum pertemuan dan juga ketika proses negosiasi sedang berlangsung. Hal ini memerlukan riset yang intensif serta keahlian mendengar yang sangat fokus.

Akhirnya, seni negosiasi mensyaratkan kesabaran, jangan terlihat memaksa, manfaatkan cerita dalam memaparkan fakta, dan menjunjung prinsip sejati seperti keadilan.

Artikel Terkait